Adult Learning Processes: Pedagogy and Andragogy _Knowles
Proses Belajar Orang Dewasa (Pedagogi dan Andragogi)
Artikel jurnal ilmiah berjudul "Adult Learning Processes: Pedagogy and Andragogy" yang ditulis oleh Malcolm Knowles ini menempatkan pemahaman mengenai proses belajar orang dewasa ke dalam sebuah konteks sejarah yang mendalam. Pada mulanya, seluruh guru besar dalam sejarah—mulai dari Confucius dan Lao-Tze di Cina kuno, para nabi Ibrani dan Yesus, hingga Socrates, Plato, dan Aristotle di Yunani—merupakan para pengajar orang dewasa yang memandang belajar sebagai sebuah proses penyelidikan (process of enquiry) di mana pemelajar memegang peran aktif yang utama. Akan tetapi, sebuah pilihan tragis terjadi pada abad ke-12 ketika sekolah-sekolah sekuler di Eropa mulai berkembang dan justru memilih mengadopsi model sekolah biara abad ke-7 yang didasarkan pada asumsi-asumsi pedagogi yang kaku, sehingga model pendidikan konvensional dari abad tersebut hingga masa kini akhirnya terus didominasi oleh sistem yang bersifat mengarahkan anak-anak.
Melalui tulisan ini, Knowles mengidentifikasi perbedaan paling kritis antara asumsi pedagogi dan andragogi, yang terletak pada konsep kedewasaan diri pemelajar serta pergeseran peranan dari seorang pengajar. Jika seorang pedagog cenderung menerima dan mempertahankan ketergantungan (dependency) dari peserta didik, maka seorang andragog memiliki sistem nilai serta kewajiban moral yang mendalam untuk membantu setiap orang bergerak dari kondisi bergantung menuju kemandirian yang semakin terarah diri (increasing self-directiveness). Proses ini menuntut pengajar untuk menanggalkan topi sebagai perencana konten yang hanya mementingkan efisiensi transmisi materi, dan mulai bertindak sebagai seorang perancang proses (process designer) yang memfasilitasi pengalaman belajar secara natural, organik, serta fungsional layaknya bernapas.
Secara garis besar, desain proses andragogi yang ditawarkan dalam artikel ini mencakup tujuh elemen penting, dengan penekanan utama pada pembangunan iklim belajar yang dipenuhi rasa percaya, informalitas, keterbukaan, saling menghormati, serta kehangatan. Knowles juga membagikan sebuah strategi evaluasi dan aktivitas belajar yang sangat fleksibel melalui penggunaan kontrak belajar (learning contract). Di dalam kontrak tersebut, pemelajar diberikan inisiatif penuh secara partisipatif untuk merumuskan tujuan belajar, menentukan strategi dan sumber daya, hingga mengumpulkan serta memvalidasi sendiri bukti-bukti pencapaian kompetensi mereka berdasarkan penilaian bersama (mutual assessment).
(teks lebih lanjut silakan perhatikan di Pratinjau)
Komentar
Posting Komentar